Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

Keajaiban Hujan

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Keajaiban HujanHujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat. Hujan–yang memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.

Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupaka kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

Kadar Hujan

Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf : 11)

“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.

Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.

Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).

Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.

Pembentukan Hujan

Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.

Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48)

Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Tahap Pertama : “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”

Keajaiban Hujan
Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.

Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”

Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.

#Sumber
HarunYahya.com

Selasa, 17 Januari 2012

Dari Mana, Untuk Apa, dan Kemana Manusia Diciptakan

Segala puji milik Alloh, pemelihara hamba-Nya di waktu malam dan siang, yang Maha Mengetahui dan Maha Adil, yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Ya Robb, teguhkan hati ini, jangan jadikan ia condong kepada kemaksiatan sesudah Engkau memberi petunjuk-Mu dan anugerahilah kami Rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau pemelihara dan pemberi petunjuk yang paling baik.

Manusia merupakan makhluk mulia yang diciptakan oleh Robb, sang pen-desain seluruh jagat semesta. Sungguh, semua dan setiap yang Alloh SWT ciptakan, baik di langit, di bumi, maupun yang ada diantara keduanya bukanlah sesuatu yang main-main atau iseng yang hadir sebagai makhluk pelengkap, dan bukan pula sesuatu yang sia-sia. Semua yang diciptakan mempunyai maksud dan tujuan serta manfaat yang saling bergantung antara satu dan yang lainnya. Laksana penciptaan mobil yang dibarengi dengan penciptaan sarana lain seperti roda misalnya. Tanpa roda, mobil tidak mampu berjalan dengan baik, begitupun sebaliknya. Toh, bila keduanya telah ada, kendaraan butuh bahan bakar untuk berjalan. Dan bukan kebetulan juga jika Alloh telah merancang kematian hewan atau tumbuhan purba untuk selanjutnya dijadikan bahan bakar.

Dan semua itu Dia satu kehormatan besar bagi makhluk yang disebut manusia untuk mengendalikannya, bukan makhluk lain seperti kuda, sapi, atau bahkan kera yang dinotabenenkan oleh beberapa pakar Ilmu Teknologi yang ingkar kepada hakikat penciptaan sebagai spesies yang dekat dengan manusia. Tidak hanya kendaraan, lebih luas lagi manusia diberi kuasa untuk mengatur dan memanfaatkannya sesuai yang sudah ditetapkan oleh Sang Maha Pengatur.
Oleh karena itu, mari kita tundukkan hati untuk sejenak memahami hakekat penciptaan manusia, dari mana? Untuk apa? Dan kemana kita akan kembali? Agar kita lebih mengenal diri sebagai pribadi individu dan sosial yang mengenal dan mampu berjalan dalam fitrahnya. Alloh SWT berfirman dalam Qur’an Surat [51] Adz-Dzariyat : 20-21

20. dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
21. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?

1. Dari Mana Manusia Diciptakan?
Manusia pada dasarnya terdiri atas 2 unsur utama, yaitu Jasmaniyah dan Ruhaniyah. Jasmaniyah manusia pada umumnya dibentuk oelh Alloh SWT dari saripati tanah, sebagaimana firman Alloh dalam Qur’an Surat Al-Mu’minuun [23] : 12-14

Kemudian setelah jasmani dalam rahim (janin) ini siap, maka Alloh meniupkan ruh ciptaan-Nya kedalam janin, Firman Alloh dalam Qur’an Surat Shaad [38] : 72

Inilah secara global penciptaan manusia, lalu Alloh SWT memberikan potensi yang bisa berkembang dan dikembangkan oleh manusia sehingga manusia mampu membedakan diri dari makhluk lainnya seperti hewan. Para Fuqoha berkata :

“Manusia ini laknasa hewan, (yang membedakannya) adalah diberikannya kepada manusia Natiqoh (akal fikir yang sesuai fitrah)”

Seluruh potensi yang diberikan kepada manusia pun tidak lepas dari hakekat pemberian yakni harus disyukuri, dan dimanfaatkan kepada jalan yang diridloi oleh yang memberi tadi. Alloh SWT berfirman dalam Qur’an Surat An-Nahl [16] ayat 78

2. Untuk Apa Manusia Diciptakan?
Setelah memahami hakikat penciptaan diri, kita faham bahwa kita diciptakan oleh Alloh SWT tidak sia-sia, dan memiliki tugas yang harus dilakukan, agar tetap diakui sebagai hamba-Nya yang berjalan pada fitrahnya, yang akan menjadikan diri sebagai makhluk mulia diantara ciptaan yang lain dihadapan Alloh SWT. Alloh berfirman dalam Qur’an Surat Ali-Imron [3] : 191

191. …"Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.


Salah satu hakekat penciptaan manusia yang bisa kita uraikan di sini adalah tugas mulia untuk mengabdi kepada Alloh SWT. Alloh berfirman dalam Qur’an Surat Adz-Dzariyaat [51] : 56

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.


Dalam ayat tersebut jelas bahwa Alloh tidak menciptakan manusia melainkan dengan perintah dasar agar manusia tetap berada dalam fitrahnya, yakni mengbadi (beribadah) kepada sang Kholik. Di sini seperti ada pembebanan yang harus dipikul manusia. Padahal Alloh SWT tidak akan membebani kepada hamba-Nya melebihi apa yang mampu dipikul oleh hamba tersebut. QS. Al-Baqoroh [2] : 286

286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesang-gupannya…

Alloh Maha Adil dan sekali-kali tidak berbuat dzolim pada hamba-Nya. Pengabdian yang dibebankan kepada kita hanyalah bagi orang-orang yang mau, yang ridlo menjadikan Alloh sebagai Robb mereka dan ridlo mengikuti milah Nabi-Nya. Bukankah pembebanan tugas pengabdian itu hanya untuk orang-orang yang ikhlas. Alloh SWT berfirman dalam Qur’an Surat Al-Bayyinah [98] : 5

5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, …


Tugas pengabdian itu bukanlah, perintah yang tanpa menjalankan perintah tersebut sudah Alloh ciptakan dan kesemua itu juga diperuntukkan kepada manusia, dari mulai tempat berpijak, yang disebut Bumi, Alloh memilihkan bumi sebagai tempat tinggal, didalamnya banyak terdapat kekayaan yang melimpah yang bisa dimanfaatkan oleh manusia hingga ke permukaan bumi yang kita gunakan untuk bercocok tanam, penciptaan langit yang tak memiliki tiang, yang dipenuhi warna dan hiasan bintang. (dibalik itupun tersembunyi hikmah yang besar) dan juga penciptaan apa yang ada diantara langit dan bumi segalanya sudah disiapkan untuk manusia. Alloh berfirman dalam Qur’an Surat Al-Baqoroh [2] : 29

29. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.


Untuk itu wahai saudaraku, kita yang diciptakan oleh Alloh SWT dengan penuh bakat dan potensi, serta bentuk penciptaan yang paling sempurna, yang telah mengikrarkan bahwa Alloh adalah Robbunnas (Robb manusia) yang memelihara, menjaga, mengembangkan, dan menyayangi manusia harus pula mengikrarkan diri untuk tulus ikhlas mengabdi kepada Alloh, dan menjadikan Alloh satu-satunya Ilah yang berhak disembah. Alloh berfirman dalam Qur’an Surat Al-Ikhlas [112] : 1 – 4

Janganlah kita menyembah selain Alloh , menduakan Alloh, da segala perbuatan yang menjadikan tandingan-tandingan selain Alloh. Maha Suci Alloh dari apa yang disekutukan kepada-Nya.

3. Kemana Akhir Manusia?
Perjalanan panjang yang ada didunia adalah sekelumit perjalanan kecil dan perjalanan panjang sesungguhnya di bumi ini segalanya akan berakhir (binasa) termasuk manusia. Alloh berfirmandalam Qur’an Surat Al-Mu’minuun [23] : 15 dan Qur’an Surat An-Nahl [16] : 61

15. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
61 … Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.


Dan diperjalankannya kita pada hari pembalasan, yang dibalasnya seluruh amal perbuatan kita. Jika baik berseri-serilah wajah kita pada hari itu karena akan menghadap Alloh dengan keselamatan dan jika buruk maka bersiap untuk berteman dengan azab Alloh. Wana’udzubillahi min dzalik.

Wahai saudaraku sebelum bertemu dengan kematian, mari kita renungi segala sesuatunya dan berbekal untuk itu semua, “ya Robb yang maha memberi petunjuk, bimbinglah diri ini kepada jalan-Mu, jalan para Nabi-Mu, Syuhada, Shadiqin, dan Sholihin. Jadikan kami hamba-hamba yang ikhlas dalam ridlo-Mu dan hamba yang Shobar serta ridlo berada dalam jalan-Mu”.


Sumber: http://www.maswins.com

Syarat Pacaran Islami

Lucu, ketika beberapa mahasiswa semester awal memperdebatkan tentang pacaran. Apalagi dalam hubungannya dengan Islam. Mereka ingin melegalkan hal yang mereka anggap sebagai sebuah kebutuhan dengan meyakinkan orang lain bahwa Islam punya dalil tentang itu. Ironis memang. Hari gini gak punya pacar? Kuno katanya. Dan itu memang menjadi sebuah hal yang merupakan standar penilaian dari orang. Ketika berkenalan, hal yang kadang menjadi pokok utama adalah Apakah dia sudah punya pacar atau belum? Weee… sadis kali! Kalo’ cowok seumur 18 tahun ke atas gak punya pacar saat ini, pastinya dianggap culun oleh orang lain. Meskipun ia jago dalam bidang matematika, fisika, sains, agama. Tapi gak bisa ngelumpuhin cewek dengan kata-katanya, maka ia belum disebut lelaki gentle.

Memang, mencintai adalah fitrah. Menyayangi juga fitrah. Apalagi keinginan untuk saling memiliki. Tapi Islam tidak pernah mempunyai ajaran tentang pacaran. Khabibi, dalam bahasa arab berarti kekasih. Kata ini digunakan untuk menyatakan orang atau hal atau benda yang kita kasihi. Kata Khabibi juga digunakan ketika menyatakan rasa sayang kita kepada Baginda Rasul. Bagaimana mesti menyikapi perihal pacaran yang sudah mendarah daging di kalangan Anak muda sekarang? Islam sebenarnya menyediakan wadah yang sangat suci dalam hal ini. Pernikahan. Didahului dengan khitbah (meminang). Sedangkan pacaran bukanlah salah satu dari proses itu. Biasanya, anak muda sekarang lebih senang untuk sekedar menyatukan hati lewat sarana berpacaran. Prosesnya pun sangat beraneka ragam. Tapi yang paling sering terjadi adalah proses pendekatan tanpa ada visi dan misi menuju pernikahan. Ini yang salah. Pendekatan dan pengenalan yang dilakukan pun kadang bukan bertendensi pada pengenalan kepribadian, tapi penjajakan fisik. Sadis!

Bahasa yang paling sering saya dengar dari seorang pria tentang pacarnya adalah : “AMBIL JATAH”. Weee… apa gak sadis! Masa pacar sendiri yang katanya disayangi dan dikasihi diperlakukan seperti itu. Bahasa ambil jatah adalah bahasa kasar yang sangat meremehkan posisi wanita. Meskipun pada dasarnya saya juga tiada paham apa makna dari bahasa itu. Apakah jatah makan, atau ber-*****-an, atau ber-*****-an, atau ber-***-an, atau ber-ber yang lain. Kan kasian anak gadisnya orang mesti menjadi budak nafsu sang pria. Lha wong dia gak ikut memberi makan, gak ikut nyekolahin, tapi ikut ngerusak. Ingat, luka di hati mungkin saja diobati, tapi “luka fisik ” tidak akan pernah hilang (dan akan terbawa hingga suaminya berkumpul dengannya).

Aneh, kadang sang gadis juga begitu. Ketika pasangannya merasa perlu mendapat pembuktian cinta, sang gadis kadang rela melakukan apa saja demi CINTA-nya, katanya. Weleh…weleh… Dunia … dunia… kok sampe kayak gini sekarang!

Semua ini berawal karena cinta yang lahir dari ketulusan ternyata akhirnya mendapat bumbu nafsu birahi. Tentu saja bumbu nafsu ini tidak murni berawal dari diri masing-masing, tapi juga dari konsumsi terhadap berbagai media yang ada. Terutama sinetron. Coba kita amati, dari sekian banyak tayangan sinetron di semua chanel televisi nasional kita, mana yang tidak menampilkan kisah percintaan, berduaan, berpelukan, berciuman? Rupanya ini sudah jadi gaya hidup masyarakat kita. Dalam kebanyakan kisah, semua adalah tentang cinta anak muda, anak SMP, SMA, kuliahan. Yo anak kecil yang mestinya tidak mendapat ajaran gila secepat itu mestinya terjaga. Tapi kekuatan media memang sungguh sangat terlalu. Hal ini juga didukung oleh adanya kebiasaan anak remaja yang suka coba-coba. Gak funky katanya kalo’ gak nyoba ini, nyoba itu, gonta-ganti pacar, dst.

Proses yang mesti terjadi mestinya adalah proses pengenalan karakter. Jika kita memang ingin berpacaran, jangan pernah ada niat untuk sekedar mempermainkan, sekedar ngisi waktu luang. Jangan… Jangan… Karena ketika itu kamu lakukan, kamu bakal jadi playboy atau playgirl cap kadal.

Berikut ini adalah beberapa syarat pacaran secara Islami :

1. Pacaran hanya boleh dilakukan setelah pernikahan. Artinya Ijab Qabul antara Kamu sebagai laki-laki dengan wali dari mempelai wanita sudah terjadi. Bukan justru saat ini, saat kamu masih sekedar basa-basi, ingin sok kenal, sok sayang, sok cinta sama anaknya orang. Tapi pada kenyataannya kamu hanya menghambat kreativitas gadismu. Ingat, mencintai berarti menyerahkan kebahagiaan hanya pada orang yang kamu cintai. Ketika kamu sedih, kamu ingin dia merasakan apa yang kamu rasa. Ketika dia berduka, kamu pun akan merasakannya. Itu mesti, karena jika tidak begitu, cinta yang kamu rasakan pasti hanya cinta yang sekedar lewat, atau malah hanya simpatik, atau malah hanya perasaan kagum yang sementara. Jadi ketika saat ini kamu mencintainya dengan sepenuh hati, kamu gak bakal rasakan kebahagiaan sepanjang hayat. Setiap saat kamu akan terbelit masalah, terganggu hatimu mendengar dia bersama orang lain, dst. dst.

2. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), maka jangan pernah bertemu dengannya tanpa ada pihak ketiga

3. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan pernah berduaan (berkhalwat), apalagi jalan ke mall bareng, lebih-lebih nonton bioskop (siang atau malam hari, siang aja gelap, apalagi malam). Jangan pergi ke tempat rekreasi berduaan.

4. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan pernah duduk berdekatan (Jarak minimal adalah 1 meter, selama pembicaraan! Bukan di awal pembicaraan 1 meter, tapi lama-kelamaan jadi 1 cm)

5. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan melakukan pembicaraan lewat telepon dengan durasi lebih dari 3 menit (Itu akan menimbulkan pembicaraan yang sia-sia, yang dipenuhi nafsu)

6. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan melakukan kirim SMS rutin dengan kata-kata yang tidak senonoh. Ingat, wanita yang akan kita sayangi harus kita jaga, harus kita hargai.

7. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), segera lakukan pertemuan dengan orang tuanya setelah merasa bahwa dia adalah orang yang cocok. Minta orang yang kamu percaya untuk melakukan pengecekan (Hehehe… ) terhadap hal-hal yang kamu anggap perlu.

8. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), segera laporkan ke Kepala KUA setempat bahwa kamu ingin segera tercatat sebagai muslim yang menikah (berkeluarga).

Syarat di atas berlaku pada setiap orang dan semua kesempatan. Jika dalam pacaran saja syarat di atas harus berlaku, apalagi dalam dunia pertemanan, persahabatan. Kecuali jika teman akrabmu adalah muhrim mu.

Mungkin tulisan ini terlalu idealis, tapi hal ini merupakana kegelisahan yang mestinya mendapat jalan. Yang selama ini diyakinkan adalah Pacaran lebih banyak membawa mudharat daripada membawa manfaat. Dan itu telah terbukti, lahir batin.

Islam tidak pernah mengajarkan untuk berpacaran, Islam tidak mendukung itu. Dalam Islam ada “Mahabbah”, tapi itu bukan jalan untuk melegalkan hubungan unstatus. Jika memang ingin, jika memang ngebet, segera laporkan dirimu pada orang tuamu, lakukan khitbah (lamaran kepada calon mertua), lanjutkan ke KUA, hubungi kerabat, sebarkan undangan, lakukan walimah, setelah itu baru kamu bisa berpacaran bersama bidadarimu.

Jika kurang percaya dengan tips di atas, segera ke toko buku, baca “INDAHNYA PACARAN SETELAH PERNIKAHAN”.

Rasakan sendiri, karena aku juga belum merasakannya kok! Haha …

Ya Allah, satukan hatiku dengan hatinya (?) Lekatkan cinta kami (!?) Satukan kami dalam jalan-Mu, berikan hama-Mu petunjuk agar segera dapat merasakan yang namanya pacaran!